Analisis Makro Ekonomi (GDP, Inflasi, dan Suku Bunga)

0
175
Hiperinflasi di Negara Venezuela
Hiperinflasi di Negara Venezuela

Analisis makro ekonomi adalah salah satu strategi yang biasa dipakai oleh kebanyakan investor atau trader saham ketika akan masuk kedalam pasar modal.

Dengan melakukan analisis makro ekonomi maka seorang investor atau trader saham akan mengetahui gambaran umum perekonomian sebuah negara. Dan dengan mengetahui kondisi perekonomian sebuah negara maka seorang investor maupun trader saham mampu mengambil sebuah keputusan yang tepat, yaitu masuk kedalam pasar modal atau keluar pasar modal (wait and see).

Beberapa indikator ekonomi yang biasa dipakai antara lain adalah GDP (Gross Domestic Product), Tingkat Inflasi, dan Tingkat Suku Bunga. Dan semua data tersebut dapat diperoleh dengan mudah oleh semua kalangan masyarakat yang menginginkannya.

GDP (Gross Domestic Product)

GDP (Gross Domestic Product) atau PDB (Produk Domestik Bruto) adalah indikator untuk mengukur kekuatan ekonomi sebuah negara, yaitu dengan menghitung nilai output barang dan jasa yang dihasilkan sebuah negara tanpa mempertimbangkan asal perusahaan yang menghasilkan barang atau jasa tersebut, yang artinya selama berada didalam batas-batas negara tersebut.

GDP atau PDB biasanya disampaikan dalam bentuk persentase terhadap nilai GDP atau PDB sebelumnya. Semakin tinggi nilai persentase GDP atau PDB maka semakin bagus kondisi ekonomi sebuah negara.

Laporan nilai GDP atau PDB biasanya disampaikan per kuartal atau 4 kali dalam setahun dan persentase tersebut bisa diperoleh melalui website www.bps.go.id.

Tingkat Inflasi

Menurut Wikipedia, Inflasi merupakan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain, konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.

Ketika angka inflasi tinggi maka harga barang atau jasa akan mengalami kenaikan. Kemudian kenaikan harga barang atau jasa akan mendorong Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi yang kemudian akan diikuti oleh perbankan menaikkan suku bunga pinjaman.

Nah, kenaikan suku bunga pinjaman akan menaikkan beban perusahaan, khususnya perusahaan yang ketika menjalankan bisnisnya menggunakan uang pinjaman bank. Dan naiknya beban perusahaan ini akan mengurangi keuntungan yang biasa diperoleh perusahaan setiap tahunnya.

Makanya, kenaikan inflasi biasanya akan mempengaruhi pergerakan harga saham (menurun atau downtrend) karena beban perusahaan akan bertambah sehingga keuntungannya pun semakin berkurang.

Tingkat inflasi sendiri berdasarkan keparahannya dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain adalah.

  1. Inflasi ringan (kurang dari 10% / tahun).
  2. Inflasi sedang (antara 10% sampai 30% / tahun).
  3. Inflasi berat (antara 30% sampai 100% / tahun).
  4. Hiperinflasi (lebih dari 100% / tahun).

Perlu diingat bahwa tidak selamanya inflasi itu buruk, karena inflasi bisa juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Dengan inflasi ringan akan meningkatkan pendapatan nasional dan membuat orang semangat bekerja, menabung, dan berinvestasi.

Lain halnya jika terjadi hiperinflasi maka uang semakin tidak berarti, daya beli merosot, dan tidak akan ada orang yang semangat bekerja.

Apakah Negara Indonesia pernah mengalami hiperinflasi? Indonesia pernah mengalami hiperinflasi pada saat orde lama. Dan tidak hanya Indonesia. Zimbwabwe pernah mengalami hiperinflasi pada tahun 2009 dan venezuela juga pernah mengalaminya pada tahun 2018.

Hiperinflasi

Menurut Wikipedia, Hiperinflasi adalah inflasi yang tidak terkendali, kondisi ketika harga-harga naik begitu cepat dan nilai uang menurun drastis.

Secara formal, hiperinflasi terjadi jika tingkat inflasi lebih dari 50% dalam satu bulan. Sebagai sebuah aturan ibu jari, inflasi biasanya dilaporkan setahun sekali, tetapi dalam kondisi hiperinflasi, tingkat inflasi dilaporkan dalam interval yang lebih singkat, biasanya satu bulan sekali.

Hiperinflasi biasanya muncul ketika adanya peningkatan persediaan uang yang tidak diketahui atau perubahan sistem mata uang secara drastis. Hiperinflasi biasanya dikaitkan dengan perang, depresi ekonomi, dan memanasnya kondisi politik atau sosial suatu negara.

Negara yang mengalami hiperinflasi bukan berarti negara tersebut tidak mampu mengatasinya dengan kebijakan moneter, tetapi bisa juga karena negara tersebut sedang mencetak uang sebagai salah satu cara untuk membiayai pengeluaran mereka.

Ketika pemerintah sedang ingin membangun infrastruktur fisik (jembatan, jalan raya), membayar gaji pegawai pemerintah & militer, atau memberi bantuan kepada masyarakat miskin & lansia, pertama pemerintah harus mengumpulkan dana yang diperlukan. Umumnya pemerintah akan memungut pajak dari publik, serta meminjam dana dari publik dengan menjual surat obligasi pemerintah.

Namun, pemerintah juga dapat membiayai pengeluaran dengan mencetak uang baru yang dibutuhkan. Ketika pemerintah menambah penghasilan dengan mencetak uang, pemerintah dikatakan sedang memungut pajak inflasi (inflation tax).

Namun pajak ini berbeda dengan pajak lain karena pemerintah tidak menerima tagihan untuk pajak ini, pajak inflasi lebih tidak terlihat. Ketika pemerintah mencetak uang, tingkat harga naik dan nilai uang di dalam dompet menjadi turun. Jadi, pajak inflasi seperti pajak yang dikenakan kepada semua orang yang memegang uang.

Untungnya, untuk memperoleh data inflasi, kita nggak perlu jauh-jauh, hanya dengan membuka website BPS (www.bps.go.id) kita sudah bisa mendapatkannya.

Tingkat Suku Bunga

Berbicara tentang tingkat suku bunga, maka pada akhirnya kita berbicara tentang kenaikan dan penurunan keuntungan perusahaan. Dan perubahan nilai keuntungan pada akhirnya juga akan mempengaruhi harga saham itu sendiri.

Ketika tingkat inflasi naik maka Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga yang kemudian akan diikuti oleh perbankan menaikkan bunga pinjamannya. Dan ketika perbankan menaikkan bunga pinjaman maka perusahaan yang mempunyai banyak hutang akan bertambah beban perusahaannya. Sehingga hal ini akan mengurangi keuntungan perusahaan.

Berkurangnya keuntungan perusahaan maka akan dibarengi juga koreksi harga sahamnya berdasarkan penurunan keuntungan perusahaan.

Makanya, pilihlah perusahaan yang mempunyai hutang sedikit atau wajar agar keuntungan yang didapat nggak hanya dipakai untuk bayar hutang ya….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here