Rasio Finansial Laporan Keuangan Perusahaan

0
159
rasio finansial laporan keuangan
rasio finansial laporan keuangan

Setelah belajar menganalisis laporan keuangan perusahaan maka saatnya kita belajar beberapa istilah didalamnya yaitu “Rasio Finansial”.

Rasio finansial adalah sebuah variabel singkat yang mudah digunakan untuk menyebutkan kondisi sebuah perusahaan.

Hal terpenting yang perlu kita lakukan adalah memahami setiap nilai rasio finansial tersebut. Dan tentu pemahaman tentang rasio finansial ini kita manfaatkan untuk memutuskan akan membeli atau menjual sebuah saham.

Secara umum rasio finansial laporan keuangan perusahaan dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu

  1. Profitability Ratio
  2. Liquidity Ratio
  3. Activity / Efficiency Ratio
  4. Debt / Leveraging Ratio
  5. Market Ratio.

1. Profitability Ratio

Fungsi rasio finansial ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan mencetak keuntungan atau laba. Ada beberapa rasio finansial yang masuk kedalam kategori profitability ratio ini, antara lain Net Profit Margin, Return of Sales, Return On Equity dan Return On Assets.

Net Profit Margin (NPM)

Rasio finansial NPM diperoleh dengan cara membagi keuntungan bersih dengan total penjualan.

Net Profit Margin = Net Profit / Total Sales

Dengan mengetahui nilai NPM berarti kita bisa tahu seberapa besar nilai keuntungan yang diperoleh dari setiap nilai penjualan. Misalkan nilai NPM adalah sebesar 30%, maka besarnya keuntungan (profit) yang diperoleh setiap Rp 1.000,- penjualan (sales) adalah sebesar Rp 300,-.

Semakin besar nilai Net Profit Margin (NPM) maka semakin bagus karena semakin menguntungkan.

Return On Sales (ROS)

Rasio finansial ROS diperoleh dengan cara membagi laba usaha dengan total penjualan. Rasio finansial ini juga sering disebut dengan istilah Operating Income Margin.

Return On Sales = Laba Usaha / Total Sales

Mungkin kamu bertanya, apa bedanya dengan NPM? ROS adalah rasio finansial yang hanya menghitung keuntungan dari kegiatan inti perusahan yaitu operasi bisnis itu sendiri. Semakin besar nilai rasio finansial Return On Sales (ROS) maka semakin bagus karena semakin menguntungkan.

Return On Equity (ROE)

Rasio finansial ROE diperoleh dengan cara membagi besarnya laba dengan besarnya modal yang dimiliki pemegang saham. Rasio finansial ROE dinyatakan salam satuan persen.

Return On Equity = Net Income / Equity

Nah, biasanya investor paling banyak melihat rasio finansial ini. Semakin besar persentase nilai ROE maka semakin bagus kinerja perusahaan.

Misalkan perusahaan mempunyai ROE sebesar 30%, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp 3.000.000,- untuk setiap modal sebesar Rp 10.000.000,-.

Karena Indonesia adalah termasuk negara berisiko tinggi maka sangat disarankan memilih perusahaan yang mempunyai rasio finansial ROE > 25%.

Return On Assets (ROA)

Rasio finansial ROA diperoleh dengan membagi laba perusahaan dengan total aset. Rasio finansial ROA dinyatakan dalam satuan persen.

Return On Assets = Net Income / Total Assets

Sama seperti rasio finansial ROE, semakin besar nilai persentase ROA maka semakin bagus kinerja perusahaan, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu menghasilkan keuntungan dengan cara memanfaatkan seluruh aset yang dimilikinya secara efisien.

Dan karena aset adalah sejumlah dana perusahaan yang diinvestasikan maka ROA juga sering disebut dengan istilah Return On Investment (ROI).

Perusahaan dengan ROA yang tinggi selalu dituntut untuk mengalokasikan dana yang dimiliki kedalam aset investasi yang selalu menguntungkan.

2. Liquidity Ratio

Rasio finansial ini menunjukkan kemampuan perusahaan membayar hutang dalam jangka waktu pendek. Dan jenis rasio finansial yang sering digunakan untuk mengetahuinya adalah Current Ratio.

Current Ratio

Rasio finansial current ratio diperoleh dengan membagi besarnya aset lancar dengan hutang lancar.

Current Ratio = Aset Lancar / Hutang Lancar

Rasio finansial ini menunjukkan kemampuan perusahaan membayar hutang jangka pendek dengan aset lancarnya, seperti kas, persediaan, dan piutang perusahaan.

Semakin besar nilai current ratio semakin bagus karena menujukkan perusahaan mampu membayar hutang jangka pendeknya. Misalkan nilai current ratio perusahaan sebesar 4, hal ini menunjukkan bahwa perusahaan mampu membayar hutang jangka pendeknya sebesar 4 kali jumlah hutang lancarnya.

Terus bagaimana jika nilai current ratio perusahaan dibawah angka 1, hal ini memang menunjukkan bahwa perusahaan kurang bisa diandalkan mampu membayar hutang jangka pendek melalui aset lancarnya. Tetapi kita tidak perlu khawatir karena banyak cara untuk membayar hutang jangka pendek.

Tetapi kita sebagai investor cukup tahu bahwa semakin besar nilai current ratio berarti perusahaan mampu beroperasi secara lancar tanpa ada hambatan terutama tentang hutang jangka pendeknya.

3. Activity / Efficiency Ratio

Rasio finansial ini biasa digunakan untuk mengetahui seberapa efisien perusahaan mengubah nilai aset yang dimilikinya menjadi modal. Dan jenis rasio finansial yang biasa digunakan adalah Inventory Turnover Ratio dan Asset Turnover.

Inventory Turnover Ratio

Rasio finansial ini menunjukkan efisiensi perusahaan menjual persediaannya dalam periode waktu tertentu.

Inventory Turnover = Averages COGS / Averages Inventory

informasi COGS, klik artikel Laporan Keuangan Perusahaan Kuartal dan Tahunan.

Nilai rasio yang rendah menunjukkan bahwa persediaan masih terlalu banyak sekaligus menunjukkan bahwa perusahaan malas melakukan penjualan atau produk memang tidak laku di pasar.

Jika nilai rasio besar maka menunjukkan bahwa produk yang ada digudang sedikit (sangat laku) sehingga meminimalkan biaya penyimpanan produk di gudang.

Catatan, Rasio finansial ini hanya cocok digunakan untuk membandingkan perusahaan-perusahaan yang mempunyai produk sejenis dan tidak cocok digunakan untuk membandingkan kinerja perusahaan yang menjual produk berlainan bahkan berbeda jauh, seperti perusahaan makanan dengan perusahaan motor.

Asset Turnover

Rasio finansial ini diperoleh dengan membagi nilai penjualan dengan total aset perusahaan. Rasio ini menunjukkan efisiensi perusahaan dalam hal penggunaan aset untuk menghasilkan penjualan.

Aset Turnover = Sales / Average Total Assets

Nilai Sales menggunakan data “penjualan bersih atau penjualan” di laporan laba rugi. Nilai average total assets adalah rata-rata seluruh aset di Neraca baik di awal dan akhir periode.

Semakin besar nilai aset turnover maka semakin bagus karena perusahaan semakin efisien menghasilkan keuntungan.

4. Debt / Leveraging Ratio

Rasio finansial ini digunakan untuk mengetahui kemampuan perusahaan membayar hutang jangka panjang. Dan rasio finansial yang biasa digunakan adalah Debt to Assets Ratio dan Debt to Equity Ratio.

Debt to Assets Ratio (DAR)

Rasio finansial DAR diperoleh dengan membagi total hutang baik hutang jangka panjang dan pendek dengan total nilai aset.

Debt to Assets Ratio = Total Hutang / Total Aset

Semakin kecil nilai DAR maka semakin bagus. Misalkan saja DAR perusahaan sebesar 0.5, nilai ini menunjukkan bahwa hanya 50% saja nilai aset perusahaan yang dibiayai hutang. Jika nilai DAR perusahaan lebih dari 1 maka kita harus waspada karena jika hutang ditagih semua maka seluruh aset yang dimiliki harus dijual.

Debt to Equity Ratio (DER)

Rasio finansial DER diperoleh dengan membagi seluruh hutang dengan total equity (modal).

Debt to Equity Ratio = Total Hutang / Total Equity

Semakin kecil nilai DER maka semakin bagus. Semakin besar nilai DER maka setiap keuntungan yang diperoleh perusahaan hanya akan dipakai untuk membayar hutang. Sehingga kita sebagai investor perlu memperhatika hal ini, pilihlah perusahaan yang mempunyai hutang wajar dan tidak berlebihan.

5. Market Ratio

Rasio finansial ini biasanya digunakan untuk mengetahui hubungan antara harga saham di pasar dengan kondisi keuangan perusahaan. Sehingga investor tahu apakah saham tersebut dalam kondisi murah (undervalue) atau mahal (overvalue).

Beberapa rasio finansial yang biasa dipakai antara lain adalah Earning Per Share, Price Earning Ratio, Price / Earning Growth Ratio, Price / Sales Ratio, Book Value, dan Price to Book Value.

Earning Per Share (EPS)

Rasio finansial EPS diperoleh dengan membagi seluruh keuntungan (dikurangi dividen) dengan jumlah saham beredar.

EPS = (Net Income – Dividen) / Jumlah Saham

Semakin besar nilai EPS maka semakin bagus karena perusahaan semakin menguntungkan. Nilai EPS selanjutnya akan digunakan untuk menghitung nilai Price Earning Ratio (PER) dan menentukan apakah saham perusahaan dalam kondisi murah (undervalue) atau mahal (overvalue) .

Price Earning Ratio (PER)

Rasio finansial PER diperoleh dengan membagi harga saham di pasar dengan EPS (laba per saham) perusahaan.

PER = Harga Saham di Pasar / EPS

Rasio finansial PER menunjukkan seberapa besar perusahaan tersebut dihargai oleh investor di pasar modal. Misalkan harga saham di pasar modal Rp 3.000,- sedangkan EPS perusahaan selalu konstan sebesar Rp 100,- maka nilai PER adalah 30 kali (Rp 3.000,- / Rp 100). Nilai PER ini menunjukkan bahwa investor berani menunggu 30 tahun agar balik modal ketika membeli saham perusahaan tersebut.

Tetapi perlu diingat bahwa nilai PER tidaklah pasti menunjukkan kondisi keuangan perusahaan, kita harus melihat kondisi keuangan perusahaan secara detail terlebih dahulu. Dan biasanya nilai PER digunakan untuk membandingkan dua perusahaan yang mempunyai fundamental bagus.

Book Value (BV)

Rasio finansial BV diperoleh dengan membagi total modal (equity) dengan jumlah saham beredar.

BV = Total Equity (Aset – Hutang) / Jumlah saham

sebagai contoh perhitungan adalah sebagai berikut. Misalkan perusahaan ABC mempunyai total harta atau aset sebesar 400 Miliar dan mempunyai hutang sebesar 150 Miliar. Jumlah saham beredar perusahaan tersebut adalah 100 juta lembar. Maka nilai buku saham perusahaan ABC sebesar (400 – 150 Miliar) / 100 juta = Rp 2.500, hal ini menunjukkan bahwa jika perusahaan ABC menjual sahamnya maka setidaknya investor mendapatkan uang sebesar Rp 2.500,- per lembarnya.

Price to Book Value (PBV)

Rasio finansial ini diperoleh dengan membagi harga saham di pasar modal dengan nilai buku perusahaan. Dan rasio finansial ini bisa kita pakai untuk menentukan apakah saham perusahaan tersebut mahal atau murah.

PBV = Harga Saham / Book Value (BV)

Semakin rendah nilai PBV maka semakin murah harga saham tersebut. Dan perlu diketahui bahwa sangat jarang perusahaan dijual dibawah nilai bukunya kecuali perusahaan tersebut akan bangkrut.

Kenapa pasar terkadang menghargai saham sangat mahal? hal ini biasanya terkait dengan harapan investor sendiri terhadap perusahaan tersebut. Perusahan-perusahaan yang mempunyai masa depan cerah biasanya akan diharga lebih mahal dibandingkan perusahaan-perusahaan yang masa depannya suram (dihantui kebangkrutan).

Rasio Finansial Perbankan

Rasio finansial perbankan mempunyai keunikan tersendiri jika dibandingkan rasio finansial perusahaan yang berada di sektor lainnya. Sehingga kita pun perlu memperlakukan sektor ini secara khusus dan dengan tidak menyamakannya dengan sektor industri lainnya.

Rasio finansial yang ada akan kita bahas disini antara lain adalah Capital Adequacy Ratio (CAR), Net Interest Margin (NIM), dan Non Performing Loan (NPL).

Capital Adequacy Ratio (CAR)

Rasio finansial CAR juga disebut dengan rasio kecukupan modal yang diperoleh dengan membagi modal bersih yang dimiliki bank dengan total seluruh aset.

Misalkan sebuah Bank ABC mempunyai modal bersih 40 Miliar. Bank ABC mempunyai gedung perkantoran senilai 30 Miliar, dan dana pihak ketiga seperti tabungan, deposito, dan giro sebesar 90 Miliar. Maka total seluruh aset bank adalah sebesar 40 + 30 + 90 = 160 Miliar. Maka CAR Bank ABC tersebut sebesar 40 / 160 = 0,25 atau 25%.

Di Indonesia, Bank setidaknya memiliki CAR sebesar 8% dan jika ada bank yang memiliki CAR dibawah ketentuan tersebut maka dikategorikan sebagai bank dengan berisiko tinggi. Karena ada kemungkinan tidak mampu mengembalikan dana masyarakat jika terjadi rush money (penarikan uang secara besar-besaran).

Untuk itu kita harus memilih bank dengan CAR yang tinggi karena bank tersebut masuk kategori aman dan menjadi pilihan masyarakat.

Semakin bertambahnya dana masyarakat maka semakin bertambah nilai aset bank. Sehingga bank pun harus menambah modal agar CAR selalu terjaga. Jika keuntungan bank tidak mampu menambah modal maka bank bisa melakukan aksi korporasi berupa right issue.

Meskipun sebenarnya perhitungan CAR sangat rumit, kita sebagai investor tidak perlu khawatir karena biasanya bank selalu menyajikan nilai CAR didalam laporan keuangannya.

Net Interest Margin (NIM)

Rasio finansial NIM adalah perbandingan antara pendapatan dari bunga bersih terhadap nilai aset yang disalurkan sebagai kredit. Misalkan sebuah Bank ABC mempunyai aset sebesar 160 Miliar. Dari nilai aset tersebut 120 Miliar disalurkan sebagai kredit kepada masyarakat atau instansi. Apabila dari penyaluran kredit Bank ABC mendapatkan bunga bersih sebesar 8 Miliar dengan biaya yang dikeluarkan sebesar 1,5 Miliar, maka NIM Bank ABC adalah sebesar (8 – 1,5) / 120 = 0,054 atau 5,4%.

Semakin besar nilai NIM maka semakin bagus kinerja perbankan karena bank semakin efisien memanfaatkan asetnya menjadi keuntungan. Dan untuk mengetahui nilai NIM kita tidak perlu repot-repot menghitungnya karena biasanya bank selalu menyajikan angka ini di laporan keuangan.

Non Performing Loan (NPL)

Rasio finansial NPL atau juga disebut dengan istilah rasio kredit bermasalah adalah perbandingan jumlah kredit macet terhadap total kredit yang disalurkan ke masyarakat. Kredit macet sendiri adalah kredit yang tidak berhasil ditagih oleh bank. Misalkan Bank ABC menyalurkan kredit sebanyak 120 Miliar ke masyarakat. Dari total kredit yang disalurkan 10 Miliar tidak berhasil ditagih bank, maka nilai NPL sebesar 10/120 = 0,08 atau 8%.

Semakin besar nilai NPL maka semakin buruk kinerja bank tersebut karena banyak kredit yang disalurkan tidak bisa ditagih menjadi keuntungan.

Dan perlu diketahui bahwa ada dua buah jenis NPL yaitu NPL gross dan NPL net.

NPL gross adalah data kredit macet yang masih ada kemungkinan bisa ditagih di masa yang akan datang ditambah dengan kredit macet yang sudah pasti tidak dapat ditagih.

Sedangkan NPL net adalah data kredit macet yang hanya terdiri data kredit macet yang sudah pasti tidak bisa ditagih.

Sehingga kita sebagai investor lebih aman memakai data NPL gross dibandingkan NPL net.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here